Hafshah binti Umar, Perempuan yang Dibela Malaikat Jibril


Senin, 12 Februari 2018 - 13.09 WIB

Bagikan:
Hafshah, demikian nama singkat yang dimiliki putri Khalifah Umar bin Khathab. Hafshah dikenal sebagai sosok perempuan yang cerdas.


Ia dikaruniai kemampuan yang tak lazim dimiliki oleh perempuan semasanya, yaitu mahir menulis dan membaca. Bagi ukuran perempuan di masa itu, ia dikenal pemberani. Karakter itu merupakan warisan dari sang ayah.

Sikap itu diakui oleh Aisyah RA. Ia melukiskan sifat Hafshah sama dengan Umar bin Khathab. Dalam hal keberanian, ia memiliki kepribadian yang kuat dan ucapan yang tegas. Ketika itu, pasca meninggalnya Umar bin Khathab, muncul ketegangan politik internal kaum Muslimin.

Aisyah memintanya membela Usman dan mendukung kekhalifahannya. Namun, permintaan itu ditolak oleh Hafshah. Ia lebih memilih beribadah, terutama berpuasa dan shalat malam hingga akhir hidupnya.

Hafshah dilahirkan pada tahun yang sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy. Saat Nabi Muhammad memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula, Ka’bah. Kelahiran itu terjadi di Makkah, 18 tahun sebelum peristiwa hijrah. Tepat lima tahun sebelum Muhammad SAW diutus sebagai Rasul.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika itu Ka’bah pernah dibangun kembali setelah roboh diterjang banjir. Tahun yang sama, saat Fathimah Az-Zahra—putri bungsu Rasulullah—dilahirkan.

Diriwayatkan, beberapa hari setelah Fathimah lahir, istri Umar bin Khathab, Zainab binti Madh’un melahirkan Hafshah. Umar sempat cemas karena pada zaman itu kelahiran bayi perempuan dianggap membawa aib keluarga.

Diperistri Rasulullah

Hafshah belia menikah dengan Khunais bin Hudzafah As-Saham. Ia adalah anggota pasukan perang Muslim yang berani. Khunais ikut berperang melawan orang-orang musyrik Quraisy pada Perang Badar di Madinah. Di perang tersebut, ia mengalami luka yang cukup parah hingga akhirnya syahid dan meninggal dunia. Selama sakit, Hafshah selalu setia mendampingi dan merawat suaminya.
[CUT]
Sepeninggal suaminya tersebut, Umar bin Khathab merasa prihatin dan iba dengan kondisi anaknya. Ketika itu, usia Hafshah masih 18 tahun. Sang Ayah pun mencarikan pengganti Khunais.


Ia sempat meminta Abu Bakar, Ali bin Thalib, dan Utsman bin Affan agar berkenan mempersunting anaknya. Namun, Allah berkehendak lain, janda Khunais ini, lalu menikah dengan Rasulullah SAW pada 625 M. Sejak itulah, Hafshah menjadi dekat dengan salah satu istri Nabi, yaitu Aisyah yang usianya hampir sebaya.

Ada beberapa riwayat yang melukiskan keistimewaan Hafshah. Di antaranya, Hafshah adalah perempuan yang dibela oleh malaikat Jibril. Rasulullah pernah bermaksud menceraikan Hafshah, tapi Jibril mengatakan kepada beliau, “Jangan kamu menceraikan dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang gemar berpuasa dan menunaikan shalat malam, dan sesungguhnya dia adalah istrimu di surga.”

Tugas besar

Hafshah dikenal memiliki kapasitas keilmuan, pemahaman, dan ketakwaan yang sangat luas. Ketika ayahnya diangkat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar, tidak jarang Umar bertanya kepada putrinya itu tentang berbagai hukum agama.

Setelah Rasulullah wafat, Hafshah menjalankan tugas mulianya, yaitu menghafal dan melestarikan tulisan asli Alquran yang terkumpul dalam shuhuf atau lembaran-lembaran pelepah kurma. Ia terpilih karena merupakan satu-satunya istri yang pandai membaca dan menulis. Di masa Rasulullah, Alquran terjaga di dalam dada dan dihafal oleh para sahabat.

Di masa khalifah Abu Bakar, para penghafal Alquran banyak yang gugur dalam peperangan. Kondisi seperti itu mendorong Umar bin Khathab mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan ayat-ayat Alquran yang tercecer. Abu Bakar sempat khawatir tindakan itu tak lazim dan mengada-ada. Di zaman Rasulullah, hal tersebut tidak pernah dilakukan.

Atas desakan Umar tersebut, Abu Bakar akhirnya meminta Hafshah mengumpulkan Alquran dalam shuhuf tersebut. Tidak sampai di situ, Ummul Mukminin ini juga mendapat tugas mulia; menyimpan dan memelihara Alquran.

Mushaf asli Alqur an itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal dunia. Khalifah Utsman menggunakan shuhuf tersebut sebagai acuan dalam penulisan mushaf standar Utsmani. Selain mengumpulkan ayat-ayat Quran yang asli, Hafshah masuk jajaran perawi hadis Rasulullah. Ada 60 hadis dari Nabi, 10 di antaranya terdapat dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim. [Republika]
Bagikan:
KOMENTAR