Kerinduan Anak Kecil dari Yaman Bertemu Nabi SAW


Kamis, 18 Januari 2018 - 10.22 WIB

Bagikan:
Islam yang awalnya tidak dikenal, namun lambat laun akhirnya tersebar kesetiap penjuru Jazirah pada waktu itu. Semua tidak lain atas ijin Allah subhanaahu wa ta'ala, juga atas perjuangan Rasulullah dan para sahabat. 

Pada tahun kesembilan hijrah, Madinah mulai ramai dikunjungi para delegasi dari berbagai penjuru jazirah untuk berbaiat kepada Rasulullah.

Suatu ketika delegasi Tujib dari Yaman, sampai di Madinah. Untuk bisa sampai ke Madinah mereka harus menempuh perjalanan jauh, melintasi banyak negri, mendaki gunung, dan menyisir gurun.

Ketika mereka sampai di Madinah, mereka menambatkan unta dan barang-barang bawaannya jauh dari Masjid dan jalan-jalan umum agar tidak mengganggu penduduk, dengan dijaga seorang anak yang masih belia.

Anak kecil itu merasa sedih, padahal selama ini dia ingin sekali bertemu dengan Rasulullah.

Rombongan menuju Masjid yang berada di tengah kota Madinah, dan disambut oleh Rasulullah. Mereka lalu berbaiat, dan bayak menerima nasihat-nasihat dari Rasulullah.

Mereka tidak lama bertemu dengan Rasulullah lalu berpamitan setelah tujuan kedatangannya tersampaikan.

Sebelum mereka pergi, Rasulullah memanggil Bilal untuk memberi mereka hadiah dengan lebih banyak daripada yang biasa diberikan kepada delegasi lainnya.

"Apakah diantara kalian ada yang tertinggal?" tanya Rasulullah.

Delegasi tersebut menjawab, "Ada… seorang anak penjaga tunggangan kami."

Rasulullah ingin bertemu dengan anak itu sebelum mereka semua kembali pulang ke Yaman.

Dipanggilah anak itu untuk menghadap Rasulullah.

"Rasulullah," ucap anak kecil itu, lalu ia berkata, "aku salah satu dari anggota delegasi itu. Kau telah memenuhi kebutuhan mereka. Sekarang, penuhilah kebutuhanku."

"Apa kebutuhanmu?" tanya Rasulullah.

"Aku tidak meminta harta, tapi sudikah kau memohon kepada Allah agar aku selalu diampuni, dikasihi, dan menjadi orang yang kaya hati?"

Permintaan tersebut menunjukan bahwa anak kecil tersebut telah mengenal Rasulullah dengan baik. Jika tidak, mana mungkin ia mengajukan permintaan itu. 

Dan, Rasulullah tentu saja sangat senang dengan anak itu. Tak heran bila Rasulullah memberinya hadiah seperti yang diberikan kepada sesama rombongannya, serta didoakannya anak kecil tersebut seperti apa yang dimintanya. []

Sumber: Sahabat-Sahabat Cilik Rasulullah/ Penulis: Nizar Abazhah/ Penerbit: Zaman/ 2011

Bagikan:
KOMENTAR